Review Sony alpha 230

Sony a230 (bekas) in my hand

Kamera sony alpha 230 memang kamera lama, tapi mau bagaimana lagi lha uang saya baru cukup untuk meminang kondisi bekasnya :D. Kondisi kamera ini ketika saya dapatkan terlihat si pemilik sebelumnya tidak merawatnya dengan baik dan benar, terlihat dari jamur pada sensor dan debu di kameranya. Kondisi ini memaksa saya untuk nekat membersihkan jamur pada sensor sendiri dengan peralatan seadanya. Flash internal juga mati, namun bagi seorang penyuka foto landscape, ketersediaan flash internal tidaklah begitu diperlukan. Charger bawaan juga entah kenapa kabelnya, namun bisa ditemukan di toko listrik dengan harga sekitar 5.000 hingga 10.000 rupiah.

Beberapa bagian yang saya perhatikan dari kamera ini adalah sebagai berikut :
1. Body
terbuat dari plastik dan disertai beberapa karet di sekitaranya. Ketersediaan por I/O berupa SD card, stick duo pro, swith sd to stick duo pro, HDMI dan USB tertutup rapi oleh sliding dor di sebelah kiri kamera. Sebelah kanan ada port kecil untuk suplai langsung dari listrik ketika anda memilih untuk tidak menggunakan baterai. Nyaman dipegang oleh tangan ukuran sedang seperti saya, bobot tidaklah terlalu berat untuk ukuran kamera entry level. Ada juga tombol swith untuk memilih mode Autofokus atau mode Manual ketika anda menggunakan lensa yang tidak bermotor seperti lensa minolta.


2. Lensa kit 18-55 mm
Lensanya menurut saya cukup tajam untuk ukuran lensa kit, juga tidak terlalu berisik saat mencari fokus, kecepatan fokusnya bisa dibilang di atas rata-rata lensa kit pada umumnya. Dengan diameter ring lensa 55 mm membuat saya meilih membeli lagi step-up ring ukuran 55-58 mm agar lensa CPL dan IR 720nm saya cocok dipasangkan pada kamera ini.

Baca Juga :  Review Singkat Kamera Olympus EPL-2
Lensa standarnya cukup memuaskan bagi saya

3. Baterai
Menggunakan jenis Li-on, belum pernah saya gunakan hingga habis total karena terkadang saya lebih menggunakan kamera hape.

4. Tombol
Jumlahnya memang sedikit, namun cukup untuk pengaturan utaama seperti timer, iso, shutter speed, apeture dan kompensasi exposure tanpa harus masuk ke dalam menu. Ukuran dan bentuknya juga nyaman menurut saya untuk ditekan dan dioperasikan.
Penyakit umum pada kamera ini adalah rodal dial untuk pemilihan mode yang terkadang lompat ketika masuk ke mode Manual, tapi menurut saya tidak masalah 😀

5. Layar
Ukurannya memang kecil, sehingga bagi anda yang terbiasa melihat dari layar hape keluaran sekarang tentu akan merasa tampilannya jadul. Maklumkan saja bahwa ini adalah kamera lama, sehingga tidak ada fitur live view.

Layarnya kecil, resolusi juga kecil

6. View finder dan sensor autofokus
Masih berjenis pentamiror, kurang begitu terang dan standar saja menurut saya. Satu hal yang saya suka adalah adanya fitur autofokus yang aktif ketika sensor di bawah view finder tersebut terhalang cahaya ketika mengarahkan mata kita ke view finder tersebut.

Bodynya sudah included motor autofokus, jadi bisa pakai lensa minolta

7. Sensor
Crop factor sebesar 1.5x, setara dengan kamera APS-C nikon pada umumnya dan lebih lebar dari APS-C milih canon. Ukuran 10.2 megapiksel menurut saya sudah cukuplah untuk mendokumentasikan preweding di outdoor.

8. Hasil
Menang pada sistem pengolahan JPG kamera ini terasa kurang dalam menonjolkan warna dan kecerahannya, gantinya saya lebih sering menggunakan format RAW setiap kali melakukan jepretan.

Baca Juga :  Review Nokia Lumia 920 Untuk Fotografi Perjalanan

Kesimpulan bagi saya tentu saja kamera ini bagus, karena cuman ini milik saya satu-satunya 😀 😀 😀
Terlepas dari subyektifitas saya sebagai pemilik, merek minoritas ini tentu saja akan menunjukkan taringnya ketika memang berada di tangan orang yang paham tengan teknik dan esensi dari fotografi tersebut.
Silahkan dilihat saja beberpaa hasil jepretan saya ketika melakukan perjalana ke Gunung Merbabu beberapa waktu yang lalu.
Salam alpharian 😀

8 COMMENTS

  1. Menurutku kamera yg gk ada live view nya malah bagus sob.. Selain melatih kreatifitas, juga membuat sensor lebih awet.. Ini aku juga pake sony a230.. Malah kamera mirorlessku gk kepake krn terlalu easy pengoperasiannya.. Next aku mau coba kamera film dll, untuk melatih skill, hehe

    • Sony A9 berarti gak bagus ya sob karena ada live view-nya?
      Kalau saya malah sekarang sering pakai mirrorless, perlu dokumentasi lapangan yang praktis dan hasilnya dapat diterima.
      Sudah bosan dengan mode PASM sob, hehe

      Kalau kamera film, berat di operasionalnya sob, buat belajar satu foto ke foto lain harus nunggu film selesai dicuci dulu sob.

    • saya belum pernah melakukannya, lagipula ketika harus mengakses layar bagian dalam, maka kemungkinan harus membongkar body kamera. Jika tidak memiliki peralatan dan keahlian dalam bongkar membongkar, lebih baik dibawa ke tempat service kamera saja.

  2. kebetulan aku punya kamera yang sama. Tiba tiba muncul tulisan”no lense attached shutter locked ” kenapa ya?

    • Bisa jadi kurang pas, pastikan sampai bunyi “ceklek” agar sesuai pada posisinya.
      Atau, bila sudah pas, coba bersihkan pin penghubung pada lensa dan body.

    • gak tau juga itu, mending beli flash eksternal aja… setahuku harga servis rata2 untuk flash itu sekitar 250ribu, tapi tergantung juga dengan kerusakannya seperti apa.
      lokasi dimana?

Ambil hanya informasi, tinggalkan hanya komentar. Silahkan berbijak hati untuk mengisi kolom komentar. Salam