Tetirah di Kampung Sindangbarang Hingga Memintal Denai Ulat Sutera

Pagi ini ada yang berbeda dari pagi biasanya, saya berada dalam rombongan yang sedang menuju ke Kampung Budaya Sindangbarang, Bogor. Saya akan mengikuti workshop fotografi dan travel writing yang diadakan oleh IDCornres dan Fujifilm.

Perjalanan dari titik kumpul menuju ke Kampung Budaya Sindangbarang cukup lancar walau harus sedikit diselingi insiden angkot yang kami tumpangi sempat nyasar dan memaksa rombongan berjalan kaki karena tidak kuat di tanjakan.

Sesampainya di area parkir Kampung Budaya Sindangbarang, Kami sudah ditunggu oleh tuan rumah. Sudah terlihat ada sambutan di gerbang masuk Kampung Budaya Sindangbarang. Sambutan tersebut berupa iringan Angklung Gubrag dengan suara yang khas.

Angklung Gubrag Sindangbarang
Suara khas dari Angklung Gubrag ditambah senyum ramah para ibu-ibu ini menyambut kedatangan kami. Terima kasih. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Kami segera menuju ke Bale Riungan, sebuah balai terbuka yang terbuat dari kayu. Sejenak saya meluruskan kaki dan melihat ke sekitar. Saya menghirup udara pagi itu lebih dalam dari biasanya, nikmat, aroma pedesaan yang saya rindukan.

Tak berapa lama setelah semua peserta workshop berkumpul di Bale Riungan, workshop segera dibuka dengan santai yang kemudian diikuti dengan materi mengenai Travel Photography oleh Raiyani M. Saatnya untuk mengosongkan gelas guna menampung semua ilmu yang akan dituang.

Dari semua materi yang diberikan, satu hal yang sangat ditekankan oleh beliau adalah angel atau sudut pemotretan. Hindari memotret pada eye human level, tapi cobalah dengan low angle atau high angle. Niscaya akan mendapatkan komposisi unik dan foto yang lebih bercerita.

Raiyani M workshop fotografi
Banyak ilmu fotografi baru yang saya dapatkan, terutama dalam memaksimalkan kamera Fujifilm (dokumentasi : ghozaliq.id)

Pada workshop kali ini, peserta juga diberi kesempatan langka, yaitu dipersilahkan mencoba dan menggunakan kamera Fujifilm selama kegiatan workshop berlangsung. Ada 2 seri kamera Fujifilm yang bisa digunakan peserta, yaitu X-T100 dan X-A3. Keduanya memiliki fitur layar yang bisa tilt, sehingga memudahkan dalam pengambilan berbagai angel pemotretan.

Sudah banyak rekan blogger saya yang beralih ke kamera Fujifilm dengan seringnya mereka menggunakan hastag #terfujilah. File JPG dari kamera Fujifilm terasa sudah matang, siap transfer via wifi lalu segera unggah tanpa perlu editing lebih lanjut. Selain itu, lensa kit dari kamera Fujifilm memiliki kualitas terbaik dikelasnya. Sehingga pengguna Fujifilm bisa fokus ke ide konten, urusan kualitas foto serahkan ke Fujifilm saja.

Tidak usah pusing-pusing menggunakan mode Manual, pakai mode otomatis saja hasilnya sudah memuaskan. Ketika menggunakan Fujifilm X-A3, dengan dukungan sensor sensor X-Trans CMOS maka hasilnya sudah auto tajam. Jadi yakin saja kalau hasilnya akan ikutan jadi auto keren.

Sebelum turun ke lapangan guna menyaksikan pentas budaya, kami menikmati hidangan sehat pagi itu. Pisang, ubi, dan jagung yang semuanya direbus. Ditambah dengan teh dan bajigur yang semakin menghangatkan suasana antar peserta workshop saat itu.

jajanan di sindangbarang
Jadilah seperti daun pisang, ia mengayomi bukan hanya keluarganya saja. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Pentas Budaya di Kampung Sindangbarang

Di sudut lapangan sudah terlihat rombongan pementas yang berkumpul, segera kami semua menata diri di pinggir lapangan untuk bisa menyaksikan pawai sebagai pembuka pentas budaya yang akan segera dimulai. Total ada 7 pertunjukan di Kampung Budaya Sindangbarang pagi itu.

1. Angkluk Gubrag

Angklung yang dimainkan tersebut tidak memiliki tangga nada seperti angklung modern, dibiarkan seperti itu agar terdengar alami. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Angklung Gubrag selalu dijadikan sebagai ritual ketika hendak menanam padi hingga menyimpan padi, dan hanya dibawakan oleh ibu-ibu. Suaranya sangat khas, terasa serasi dengan atmosfer di Sindangbarang

Ada 5 orang ibu-ibu yang terlihat masih sangat enerjik ketika membawakan Angklung Gubrag saat itu. Semangat mereka membuat para peserta tidak segan-segan meminta untuk berfoto seusai pentas.

2. Rampak Gendang

“pukul hatiku aja Teh” ucap lelaki lajang yang ada di sebelah saya. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Ada 3 penari perempuan yang membawa sepasang tongkat pemukul dengan satu set gendang. Gerakan mereka terlihat sangat cepat dan bertenaga, terutama ketika bersahut-sahutan sembari memukul gendang.

Baca Juga :  Perjalanan Takengon ke Blangkejeren via Bintang menggunakan Kereta

3. Kaulinan Barudak

Kaulinan Barudak
Kaulinan barudak (permainan anak) dipentaskan oleh anak-anak yang tinggal di sekitar Kampung Budaya Sindangbarang. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Permainan anak-anak seperti foto di atas kalau di tempat saya disebut ular-ularan. Permainan yang sudah jarang sekali saya jumpai di tempat saya. Melihat mereka bermain, mengingatkan saya pada masa kecil saat sering bermain ular-ularan seperti itu.

Kaulinan Barudak
Satu kelompok beragam ekspresi, ada yang masih bisa tersenyum, ada yang sudah cemberut karena kepanasan. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Cuaca cukup terik saat itu, namun para anak-anak tetap menari walaupun ada beberapa wajah yang terlihat sudah kelelahan. Seusai pertunjukan menari, sebagian dari anak-anak ini berlari menuju ke tempat teduh guna mengambil air minum. Capek ya nak 🙂

4. Tari Mojang Priangan

Tari Mojang Priangan
Gerakan mereka bukan hanya gemulai, namun juga lincah. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Ada yang menyebut Tari Jaipong, ada yang menyebut Tari Mojang Jaipong. Namun saat berada di sini, saya mendengar bahwa tari ini bernama Tari Mojang Priangan. Ada 3 penari saat itu yang menari luwes di atas rerumputan.

Tari Mojang Priangan
Ada yang ingin belajar Tari Mojang Priangan? (dokumentasi : ghozaliq.id)

Gerakan-gerakan para penari yang sangat cepat itu cukup membuat sebagian besar foto saya kabur, hingga ada satu momen dimana penari tersebut bergerak cukup pelan sehingga bisa saya ambil gambarnya dengan cukup baik.

5. Pencak Silat Cimande

Pencak Silat Cimande
3 pemuda ini akan mementaskan Pencak Silat Cimande. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Pertunjukan Pencak Silat Cimande ini berdurasi cukup singkat bila dibandingkan dengan pertunjukan yang lain. Ketika saya sedang mencoba mencari sudut pemotretan yang bervariasi, ternyata pertunjukkannya sudah selesai.

6. Tari Merak

Dari kostumnya, bisa diketahui bahwa ini adalah Tari Merak. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Tari Merak terinspirasi dari burung merak, bukan hanya warna bulunya, namun gerak-gerik burung merak yang bisa dijumpai dalam Tari Merak. Maka jangan heran ketika leher penari Tari Merak juga terlihat gemulai ketika sedang menari.

7. Parebut Seeng

Parebut Seeng
Tidak boleh memukul, menyerang juga hanya boleh lewat samping. (dokumentasi : ghozaliq.id)
Parebut Seeng
Akhirnya seeng bisa direbut oleh lawan. Tone dari kamera Fujifilm sudah OK dari kameranya sendiri. (dokumentasi : idCorners)

Pertunjukan Parebut Seeng mempertontonkan dua orang pemuda yang memperebutkan seeng atau dandang. Parebut Seeng merupakan salah satu kegiatan dalam acara adat pernikahan. Pertunjukan berhenti ketika seeng berhasil disentuh atau direbut oleh lawan.

Berjumpa Abah Ukat

Pertunjukan akhirnya usai, semua terasa berjalan dengan cepat. Seperti biasanya, akan ada selalu momen untuk berbaur guna mendapatkan gambar dan kisah yang lebih dekat. Kali ini saya mendengarkan cerita dari Abah Ukat, ketua adat di Kampung Budaya Sindangbarang.

Abah Ukat
Abah Ukat pernah diberi pesan oleh seorang kokolot saat beberapa puluh tahun yang lalu untuk tetap melestarikan Sindangbarang, karena Sindangbarang akan ramai dikunjungi orang suatu saat. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Sejarah Angklung Gubrag menurut Abah Ukat

Dulu pernah gagal panen berkali-kali, lalu para kokolot (sesepuh) bermusyawarah agar masyarakat tidak kelaparan karena gagal panen. Lalu para kokolot sepakat untuk mengadakan ritual, ada salah satu kokolot melihat Ada bayangan Angklung Buhun jatuh (gubrag) dari atas.

Lalu dirundingkan kalau saat itu Angklung Buhun hanya dipakai dalam ritual menyimpan hasil panen padi ke lumbung padi. Lalu kemudian Angklung Buhun digunakan mulai dari tanam padi, dan ternyata hasil panennya sukses.

Atasnya memakai daun pandan, selain sebagai hiasan juga agar ada wangi yang alami. Pementas Angklung Gubrag dilakukan oleh para Ibu-ibu, karena pada Seren Taun, Bapak-bapak bertugas memikul padi menggunakan Rengkong.

Angklung Gubrag juga tetap tidak memakai tangga nada, dengan tujuan agar semua alami tanpa ada sentuhan modern. Umur Angklung Gubrag mungkin sudah sekitar 500 tahun.

Pencak Silat Cimande dan Parebut Seeng

Abah Ukat menceritakan bahwa setiap pemain pencak silat wajib mengucapkan bismillahi rahmani rahim pada segelas air. Lalu air tersebut diminum dan untuk cuci mata, tujuannya agar pandangannya terang dan tidak kabur. Saya rasa yang dimaksudkan oleh Abah Ukat tentang “terang dan tidak kabur” lebih dari sekedar sepasang mata sebagai indera pengelihatan.

Baca Juga :  Mangrove Edupark Pantai Maron, Hutan Bakau di Tepian Kota Semarang

Setelah runtuhnya Pajajaran, atau sekitar abad 17, gerakan pencak silat dirubah menjadi hanya serangan dari samping saja, tidak dari depan. Selain itu dalam latihannya yang berupa olah nafas juga termasuk melatih tenaga dalam karena latihannya di air atau sungai. Dalam Parebut Seeng, pemain tidak boleh memukul, hanya boleh merebut .

Homestay di Sindangbarang

homestay sindangbarang
Kapan terakhir kali Anda tidur di rumah dengan dinding bambu seperti ini? (dokumentasi : ghozaliq.id)

Saya sejenak melipir untuk berkeliling, rupanya ada homestay yang bisa digunakan untuk menginap di Sindangbarang. Jadi membayangkan betapa tenang dan menenangkannya ketika menginap dengan suasana asri seperti di Kampung Sindangbarang. Sangat cocok untuk tetirah


Tiba saatnya untuk santap siang, benar-benar hidangan di Kampung Budaya Sindangbarang selalu membuat kejutan bagi saya. Kali ini saya bisa menikmati nikmatnya sebuah masakan sederhana namun benar-benar nikmat, ditambah suasana pedesaan dengan angin sejuk yang sesekali berhembus.

makan siang di sindangbarang
“jadilah seperti daun pisang,…..” Anda sudah tahu kelanjutannya. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Menu makanan boleh engkau pilih, namun nikmat hanya Tuhan yang kasih.

Agenda selanjutnya adalah materi mengenai travel writing yang dibawakan oleh Donna Imelda, kembali lagi saya mengosongkan gelas. Sudut pandang seorang penulis menjadi hal yang paling ditekankan oleh pemateri dalam sebuah tulisan, karena hal tersebutlah yang membuat sebuah tulisan terlihat berbeda.

Beliau juga menyarankan untuk selalu melakukan riset sebelum berkunjung ke sebuah lokasi. Menyiapkan catatan singkat sebagai checklist tentative sebagai pemandu di lokasi juga menjadi hal yang penting. Hal tersebut bertujuan agar kita lebih leluasa melakukan eksplorasi terhadap hal-hal yang belum banyak diungkap di lapangan.

donna imelda workshop
Sesi materi yang santai namun tetap berbobot. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Seusai sesi materi mengenai travel writing, segera kami berpindah ruang menuju ke Rumah Sutera. Sebuah tempat budidaya ulat sutera yang diolah menjadi kain sutra. Lokasinya tidaklah terlalu jauh dari Kampung Budaya Sindangbarang. Jaraknya bisa dilihat pada peta yang saya sematkan di bawah ini.

Berkunjung ke Rumah Sutera

Rumah Sutera terletak di pinggir jalan, bukan di tengah jalan. Seperti itulah humor receh ala Pak Ian, pemandu yang mengantarkan kami berkeliling untuk mengikuti setiap proses produksi di Rumah Sutera.

rumah sutera bogor
pintu masuk menuju dunia ulat. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Kami datang lebih lambat sekitar 45 menit dari jadwal seharusnya, hal tersebut yang membuat Pak Ian sering berkata

durasi, durasi, durasi..” yang segera disambut tawa oleh kami.

Area pertama yang kami kunjungi adalah kebun murbei, lokasinya berada di ujung Rumah Sutera. Ada sebagian perserta yang menganggap bahwa ulat sutera dilepas bebas di kebun murbei tersebut, sehingga terlihat sesekali menjaga jarak dengan pohon murbei.

Pak Ian Rumah Sutera Bogor
Jika berkunjung ke Rumah Sutera, pastikan Pak Ian yang memandu.Seru dan lucu. (dokumentasi : idCorners)

 “Pohon murbei diambil daunnya sebagai pakan ulat sutera, kalau buahnya dimakan pegawainya” Celetuk Pak Ian.

Daun murbei dipanen dari kebun, lalu dibawa ke tempat kandang ulat sutera. Sehingga ulat sutera lebih mudah untuk dikontrol dan dipanen.

Ada 4 jenis pohon murbei yang ada dibudidayakan di kebun tersebut, yaitu jenis Lembang dari lokal, jenis Multi Kaulis dari Jepang, Canva dari India, dan ada jenis Katayana dari Jepang. Untuk jenis daun paling favorit adalah jenis Lembang dan jenis Katayana karena teksturnya lembut.

Daun yang diambil adalah daun yang di atas, jadi ulat sutera suka daun muda” ucap Pak Ian

Ulat sutera makan daun murbei saja, tidak pakai sambal” timpalnya

Untuk daun murbei yang tua, dipanen untuk dijadikan teh. Produk ini bisa dijumpai di galeri produk Rumah Sutera.

Baca Juga :  5 Kaos Andalan Ketika Saya Traveling

ada dua jenis ulat sutera, ada yang tahu?” tanya Pak Ian ke rombongan

laki-laki dan perempuan…!” jawabku

salah, yang benar adalah ada ulat sutera muda yang berumur kurang dari 10 hari dan ulat sutera tua yang berumur lebih dari 10 hari” jawab Pak Ian

hhmmmmtt….jadi yang Pak Ian tanyakan, itu jenis atau kelompok umur sebenarnya?” gumamku sembari merasa terjebak pertanyaan tersebut.

durasi, durasi, durasi..” suara itu kembali terdengar

Kami menuju ke rumah ulat yang di dalamnya berisi tumpukan rak khusus yang dihuni oleh ribuan ulat. Di rumah tersebut para ulat diberi makan 4 kali sehari, dimana untuk mencapai umur ulat sutera hingga 1 bulan diperlukan 1,3 ton daun murbei.

Pak Ian menjelaskan ada 4 ciri bahwa ulat sutera akan membuat kokon, yaitu naik dari tumpukan daun, lalu mencari tempat, keluar air liur, dan badan ulat menjadi transparan. Pada dasarnya, kokon berfungsi sebagai perlindungan diri saat ulat bermetamorfosis. Kokon terbuat dari air liur ulat sutera yang mengandung protein.

Rumah Sutera Bogor
Kokon yang bersih dan kencang dipilih untuk proses selanjutnya. (dokumentasi : ghozaliq.id)
Rumah Sutera Bogor
Tidak mudah menemukan pegawai seperti beliau yang telah berada di sini selama belasan tahun dengan upah kotor harian yang seharga satu gelas kopimu di mall. Gimana? Tone dari Fujifilm untuk warna kulit terlihat alami kan?, (dokumentasi : idCorners)

Durasi pembentukan kokon hingga sempurna memerlukan waktu 2 hari 2 malam, saat itulah kokon segera dipanen sebelum terbentuk kepompong sehingga merusak kokon. Dalam proses ini, ulat sutera tidak sampai menjadi larva, karena usai proses peryortiran, kokon-kokon tersebut akan direbus. Jikapun ada kokon yang menjadi kupu-kupu, maka sayapnya tidak bisa bergerak karena lemah.

begitulah jalan hidup ulat sutera” celetuk Pak Ian

Rumah Sutera Bogor
Sortir tahap dua, untuk memisahkan antara satu kokon dengan lainnya. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Dalam penyortiran kokon pada foto di atas, kadang ditemukan ada 2 buah pupa di dalam satu kepompong. Kokon tersebut tidak bisa digunakan dalam proses pemintalan karena alur seratnya akan saling menyilang. Ternyata dalam dunia ulat ada istilah sahabat sehidup sekepompong. #eh

Persahabatan Bagai kepompong

Sindentosca

durasi, durasi, durasi..

Rumah Sutera Bogor
Kokon yang telah direbus kemudian diambil untuk dipintal seratnya. (dokumentasi : idCorners)
Rumah Sutera Bogor
Tempat pemintalan serat kokon menjadi benang sutera. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Kami menuju ke ruang pemintalan kokon menjadi benang sutera. Dalam proses ini saya sangat kagum dengan kejelian para pegawai yang ada di sini. Mereka bisa menemukan ujung serat kokon yang kemudian akan digabungkan dengan sekitar 15 kokon lainnya untuk dipintal menjadi benang. Kondisi kokon harus dalam kondisi basah agar lebih elastis dan lebih mudah dipintal.

rumah sutera bogor
kokon yang telah selesai diambil seratnya, akan menyisakan pupa yang bisa dimakan. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Di tempat inilah kokon yang telah direbus segera dipintal, hingga hanya menyisakan pupa. Pupa ini bisa dimakan, katanya 2 buah pupa memiliki protein sebanyak 1 buah telur ayam. Tertarik untuk mencukupi kebutuhan protein harian anda?

durasi, durasi, durasi..

Selanjutnya kami masuk ke ruang penenunan benang sutera menjadi kain sutera. Di sini terdapat alat tenun bukan mesin yang sedang beroperasi. Terlihat sekali penenun lincah memainkan tiap-tiap instrumen alat tenun untuk menghasilkan motif yang diinginkan.

Rumah Sutera Bogor
Memakai ATBM, alat tenun bukan mesin. (dokumentasi : ghozaliq.id)

Per meter berapa harganya di sini?” Tanya seorang peserta kepada Pak Ian

Di sini kami jual seharga Rp.180.000 per meter, asli tanpa campuran sintesis” jawab Pak Ian

Wah cukup murah ya” balasnya dengan terkaget

Iya Bu, makanya beli di sini saja, lebih murah dan keaslian terjamin” jawaban S3 marketing tersebut mengundang gelak tawa satu ruangan.

Rumah Sutera Bogor
Betapa rumitnya melihat deretan ini. Foto dari Fujifilm tetap OK walau di dalam ruangan. (dokumentasi : idCorners)

Area terakhir yang kami kunjungi adalah Galeri Rumah Sutera, di sini bisa dijumpai berbagai produk hasil olahan ulat sutera, ada yang setengah jadi, ada juga yang sudah jadi, banyak pilihan. Cocok untuk oleh-oleh kepada mertua agar disayang, cara ini jelas lebih terbukti daripada ngolesin minyak bekas gorengan ke kaki.

Saya juga telah membuat virtual tour 360 untuk lebih memudahkan pembaca untuk berkeliling sejenak di Rumah Sutera. Silahkan dinikmati di bawah ini.

Akhirnya rangkaian kegiatan workshop bersama IDCorners dan Fujifilm hari ini telah selesai. Terima kasih atas segala ilmu yang dibagikan dan pengalaman yang diberikan selama satu hari ini. Semoga bisa bergabung lagi pada kegiatan lainnya.

Apakah anda tertarik untuk berkunjung ke Kampung Sindangbarang? atau malah penasaran dengan rasa pupa ulat sutera?

Salam

Ambil hanya informasi, tinggalkan hanya komentar. Silahkan berbijak hati untuk mengisi kolom komentar. Salam