Camping Perdana Rengganis di Basecamp Mawar, Gunung Ungaran

Entah mengapa tetiba Istri saya mengajak untuk camping di Mawar, yaitu basecamp pendakian Gunung Ungaran yang terletak di atas obyek wisata Umbul Sidomukti.

Setelah memilih hari karena libur yang agak terasa nanggung saat libur Hari Raya Nyepi tanggal 7 Maret 2019, maka diputuskanlah untuk camping di malam minggu saja, atau 9-10 Maret 2019.

Sebelumnya, kami belum pernah mengajak Rengganis untuk menginap di alam terbuka. Setelah beberapa pertimbangan maka diputuskan untuk tidak menginap, berangkat pagi kemudian pulang sore hari.

Test drive saja dulu untuk melihat bagaimana tingkah Rengganis saat dibawa ke alam terbuka. Sebelumnya memang saya sempat membuka tenda Rei 2p di dalam rumah, dan memang Rengganis sangat suka berada di dalam tenda, hingga menjadi tempat favoritnya bermain.

tenda rei 2p
Siapa sangka, membuka tenda seperti ini malah menjadi playground baru bagi Rengganis di dalam rumah.

Rencana untuk berangkat sekitar pukul 06.00 WIB dari rumah akhirnya sirna setelah saya baru melakukan packing mulai subuh. Rupanya untuk membawa serta anak kecil berumur 21 bulan memerlukan persiapan yang lebih kompleks.

Mulai dari baju ganti, popok, perawatan badan, jajan, susu, jaket dan hal lainnya yang menurut kami sebagai orang tua adalah benda yang perlu di bawa. Namanya juga perdana, jadi mencoba mengumpulkan data yang sekiranya bisa digunakan untuk mempermudah camping selanjutnya.

Ternyata tas Baby Carrier Four Season yang dulu pada bulan Juni 2018 sempat kami gunakan di Curug Lawe dan Curug Benowo, bisa menampung 5 stel baju, satu kotak perawatan badan, dan 5 buah popok. Lumayan juga ternyata dimensi penyimpanan di bawah tempat duduk balita.

curug lawe benowo kalisidi
Perjalanan saat pertama kali menggunakan Baby Carrier untuk menggendong Rengganis menikmati suasana sejuk.

Ah jadi teringat Pohon Rengganis 1, bagaimana ya kabarnya, semoga tumbuh subur di sana.

Kami membawa tas satu lagi yang digunakan untuk membawa keperluan bersama. Saya rasa Tas Carrier Deuter Futura 42 cukup untuk trip satu hari ini. Lagian di Mawar juga ada warung, kalau makanan habis ya ke warung saja.

Setelah semua persiapan, kami akhirnya berangkat menuju Mawar. Satu hal yang membuat saya malas ke Mawar beberapa tahun terakhir ini adalah adanya tiket retribusi di kawasan Umbul Sidomukti. Walaupun saya sudah melintasi jalur kampung, pos ini rupanya sudah berdiri permanen di sebuah persimpangan jalan keluar dari kampung. Saya rindu dahulu.

tiket kawasan umbul sidomukti
Tiket paling mubadzir, Rp.13.000 lumayan bisa dapat telur gulung 13 tusuk, kenyang. Saya tidak ikhlas membayar tiket ini.

Bagi yang ke Gunung Slamet via Blambangan, pasti dapat karcis “Slamet View”. Iya, karcis yang dapatkan di atas sama sia-sianya dengan karcis tersebut. Karena mau tidak mau kita harus melintas jalan tersebut karena tidak ada jalan lain. Dan memang terasa “mau buat apa coba“.

Baca Juga :  [Ebook] Pulo Aceh, The Real Zero Kilometer of Indonesia

Tujuan saya kan mau ke Mawar, bukan mau ke Umbul Sidomukti, pulang pun tetap saya tidak melewati area wisata Umbul Sidomukti, melainkan jalan kampung yang saya gunakan untuk berangkat.

Ah jadi makin malas rasanya jika harus berkunjung ke Mawar lagi.

Sesampainya di Mawar, kami segera registrasi untuk 2 orang dan satu kendaraan roda dua. Total Rp.13.000, naik hampir 100% dari terakhir kali saya ke sini. Lalu tujuan pertama adalah mencari warung karena saya belum sarapan.

Tiket masuk Mawar
Karcis parkir Rp.3.000 saya serahkan kembali saat keluar parkir. Tempat parkir yang terbuka dan masih berupa tanah.

Saat sarapan, Istri saya dan Rengganis berkeliling. Rupanya Rengganis suka berada di tempat terbuka yang dingin seperti di Mawar ini. Saat itu ada banyak capung yang beterbangan. Sesosok makhluk asing yang baru pertama kalinya dilihat oleh Rengganis.

basecamp mawar
Di sana, mereka berdua sedang mengejar capung.

Sesuai sarapan, rupanya Istri saya ingin sarapan (lagi), gantian saya yang menjaga Rengganis kali ini. Maklum, Rengganis termasuk tipe balita aktif, tidak bisa diam di satu titik. Saya ajak ke bagian camp area yang banyak berdiri tenda.

Ada yang milik pengunjung, ada pula milik pengelola yang disewakan. Rengganis dengan seenaknya menunjuk sembarang tenda untuk minta masuk. Dikiranya tenda-tenda tersebut seperti di rumah yang bisa dimasukinya dengan bebas.

Melihat cuaca yang mendung, serta awan gelap di atas kami. Segera kami mendirikan Tenda Eiger Storm 1 yang saya miliki sejak 2013. Tenda ini sekarang sudah menggunakan frame aluminium untuk membuatnya lebih ringan dan kokoh. Untuk artikel modifikasi Tenda Eiger Storm 1 tahap 2 ini nanti ya, masih ada yang kurang.

camping basecamp mawar
Duduk dulu, makan kelengkeng.
camping basecamp mawar
Duduk dulu lagi, makan nutella. Tenda biru di belakang itu, merupakan tenda yang bisa disewa melalui pengelola.

Mendirikan tenda dengan keberadaan anak kecil di sekitar rupanya bisa menggemaskan dan bisa membuat lama. Kadang niat hati membantu namun hasilnya mengacau dengan tingkah polosnya. Saya harus mulai terbiasa dengan hal ini.

Setelah tenda berdiri, Rengganis sudah tidak sabar untuk masuk dan meminta tidur. Saya masukan sebuah matras karet sebagai alas, namun malah ditarik keluar kembali oleh Rengganis.

camping basecamp mawar
Tenang, mereka berdua sedang tidur. Biarkan saya menikmati suasana tenang ini di luar.

Ya sudah, pakai sleeping bag saja dahulu agar tidak terlalu dingin, nanti bisa selipkan matras aluminium di bawahnya agar bisa menghalau dingin dari tanah.

Baca Juga :  Pendakian Via Jalur Sigedang atau Tambi Menuju Puncak Gunung Sindoro (3153 mdpl) 3 of 3

Saya baru tahu kalau tenda Eiger Storm 1 sudah penuh ketika diisi oleh Rengganis dan ibunya. Ya sudah, saya mencoba melebarkan teras dengan memasang fly sheet tambahan, lalu meletakan beberapa peralatan yang tidak bisa masuk ke dalam tenda.

Kalau tahu begini, mending menyewa tenda saja kepada pengelola Mawar, selain tidak perlu membawa dari rumah, tinggal pakai, juga akan mendapatkan ruangan tenda yang lebih luas dan lebih tinggi. Cocok untuk tingkah Rengganis ketika ingin bermain di dalam tenda. Lain kali, sewa saja. Hahaha

camping basecamp mawar
Kabut seperti ini, uuuuhh…..bikin rindu

Sudah saatnya upgrade ke tenda yang lebih besar sepertinya.

Suasana saat itu tenang, sangat tenang. Suasana yang hampir 3 tahun tidak saya rasakan. Nostalgia tanpa kemeriahan. Belantara kabut yang telah lama saya damba.

camping basecamp mawar
Jawabnya ada di ujung langit,

Jam tangan menunjukkan baru pukul 11.45 WIB, namun cuaca sudah berkabut. Sempat mengurungkan niat untuk trekking ke Kolam Belanda yang berjarak tempuh sekitar 60 menit.

Akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke air terjun saja yang berjarak sekitar 30 menit. Kami mulai berkemas, meminta Rengganis untuk duduk di Baby Carrier rupanya masih menjadi hal yang belum kami kuasai dengan baik. Setelah bujukan demi bujukan, akhirnya mau, yeeey….!!!!

trekking balita gunung ungaran
Perjalanan dimulai, yuhuuu

Saat baru berjalan beberapa saat, rintik kabut mulai terasa di kulit. Ya sudah, trekking kali ini sedapatnya saja, tidak perlu harus mencapai air terjun. Dirasa cukup, ya sudah kembali tenda. Stamina kami juga sudah tidak seperti tahun 2016 saat mendaki Gunung Prau via Wates. Jadi, nikmati saja tak usah terlalu ngoyo.

Beberapa kali kami berpapasan dengan pencari rumput dan pendaki lain. Yap, anak kecil memang selalu menarik perhatian. Beruntung punya anak yang ramah senyum dan mudah melambaikan tangan ke orang asing. 🙂

trekking balita gunung ungaran
Kiri kanan hanya dedaunan hijau.

Rengganis juga sempat minta turun untuk berjalan sendiri dengan sepatu karetnya. Tentu tidaklah jauh, paling hanya beberapa puluh langkah hingga akhirnya saya angkat untuk didudukkan kembali di dalam baby carrier.

trekking balita gunung ungaran
Semakin menanjak, memasang perseneilng terendah.

Pada beberapa perjumpaan dengan pendaki lain, saya bertanya mengenai cuaca yang mereka jumpai saat turun. Kami harus mencoba memprediksi cuaca untuk mengambil keputusan agar bisa kembali ke tenda tanpa basah kuyup.

trekking balita gunung ungaran
Sebelum berputar balik, cekrek dulu ah 😀

Beberapa meter sebelum Pos 1, akhirnya kami memutuskan kembali ke tenda. Ditanjakan itulah saya bertukar tas dengan Istri saya. Perjalanan turun biarlah saya yang menggendong Rengganis.

Baca Juga :  Pendakian Via Jalur Sigedang atau Tambi Menuju Puncak Gunung Sindoro (3153 mdpl) 2 of 3
trekking balita gunung ungaran
Perjalanan turun, gantian menggendong Rengganis.

Tak terhitung berapa kali Rengganis mencoba menyentuh dedaunan yang bisa dijangkau oleh tangannya. Sesekali ia juga bermain-main dengan kedua telinga saya yang dingin. Sesekali ia juga memijat-mijat leher saya dengan kedua tangan kecilnya.

trekking balita gunung ungaran
Jarang-jarang lho kami swafoto, terlebih di tempat seperti ini 🙂

Ruang dengar kami saat itu hanyalah kicau burung dan gelak tawa Rengganis yang kini bertambah cerewet dan gemar merajuk.

Ruang pandang kami juga hanyalah hijau vegetasi dan putih kabut. Menenangkan.

Ketika jalan sudah mulai landai, hujan turun kembali. Rintik kali ini lebih deras. Segera kami mempercepat langkah agar bisa melipat jarak dengan lokasi tenda kami.

Saya berjalan sembari memayungi Rengganis di gendongan saya. Cukup sulit juga posisi tangan saya saat itu, sehingga harus sering bergantian kanan dan kiri agar tidak terasa linu.

Sesampainya di tenda, Rengganis segera minta bobo. Kali hujan cukup lama, sekitar 20 menit saya rasa, hingga akhirnya reda. Saya sudah nyaman tiduran di luar tenda beralaskan matras karet dan berpayung fly sheet.

basecamp mawar
Sudah, tiduran sejenak, menikmati ketenangan sembari menanti tanggal 21.

Sekitar 1 jam lebih tidak ada suara dari dalam tenda. Rupanya keduanya menikmati suasana dingin dengan memejamkan mata.

Sekitar pukul 14.00 WIB, Rengganis terbangun. Kami akhirnya membuka semua logistik kami agar segera dihabiskan sebelum kami pulang.

trekking balita gunung ungaran
Panen buah pohon pinus yang masih kering dan belum melekat dengan tanah.

Rengganis rupanya betah bermain masak-masakan dengan buah pinus menggunakan cooking set ds-200 yang saya bawa saat itu. Anak masak, orang tua makan.

trekking balita gunung ungaran
Tanah kering yang terbasahi, asap dari buah pinus yang dibakar, dan aroma keringatmu nak. 3 aroma yang menenangkan bagi saya.

Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB, saatnya berkemas untuk pulang. Rintik hadir kembali menemani kami saat itu. Mencoba secepatnya agar hujan tak terlalu membekas di peralatan kami.

Akhirnya dalam kondisi gerimis kami turun, baru beberapa ratus meter, hujan sudah berhenti karena perbedaan ketinggian lokasi.

Seperti biasa, sepanjang jalan Rengganis tertidur. Sampai rumah ia terbangun. Badannya segar kembali, matanya terang seperti enggan untuk terpejam lagi. Di saat yang bersamaan, tenaga kedua orangtuanya sudah berada di batas bawah. Keadaan yang sudah bisa diperkirakan sebelumnya.

Alhamdulillah camping perdana Rengganis berjalan dengan baik, sesekali ada insiden yang membuat pembelajaran agar kegiatan selanjutnya akan lebih tertata dan terencana.

Jadi, summer nanti kemana ya…

Ada keluarga kecil yang mau ikutan bergabung? Yuk inbox

Salam lestari..

6 COMMENTS

  1. Wah, istrinya romantis mas, suka naik gunung juga yah hehe…
    itu baby carriernya maksimal buat bayi smp berat berapa kg mas?
    sesekali pengen juga bawa anak buat wisata alam kayak gini

    • Kapasitasnya gak tahu juga kalau itu Mas, saat ini berat anak saya 11 kg, mungkin sampai 20 kg masih aman.
      Iya Mas cobalah sesekali, biar kenalan sama kabut dan air sungai 😀

  2. Yampyuuunnn pengen tiru tapi ka tenagaku tak sekuat itu untuk dibayangkan manjat karo gendong bocil se rengganis wkk

    • Ahaha mumpung lagi libur Kang, jadi ya main-main aja ke tempat yang seger-seger beginian. Bisa dicoba juga Kang, jangan lupa bawa jajan yang banyak, ahahaha

      Bagi sebagian orang murah, sebagian yang lain tidak 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here